Assalamualikum cantik.. udah lama ngak nulis lagi nih kali ini pengen ngebahas Kisah Para Rasul yaitu Nabi kita Tercinta Nabi Muhammad saw. Ya saya tau pasti kalian semua sudah sering mendengarnya bukan, tetapi begitu saya membaca cerita ini, begitu tersentuhnya saya hingga meneteskan airmata begitu ingin nya saya membagikan nya kepada saudara-saudara saya tercinta yaitu adalah kalian semua... Jarang kan ada blogger yang mengulas kisah para nabi, Ya langsung saja simak cerita berikut ini.
Nabi Muhammad saw
seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf (7): 158 -diutus kepada
seluruh manusia, dan beliau merupakan khataman nabiyyin (penutup para
nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40).
Allah SWT telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad saw, jauh
sebelum kelahiran beliau. Karena itu pula sementara pakar menyatakan
bahwa kematian ayah beliau sebelum kelahiran, kepergiannya ke pedesaan
menjauhi ibunya, serta ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan
strategi yang dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan
utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak.
Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan
hal-hal tertentu berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya
bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim bunga).
Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah),
ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul
Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang
membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa' (yang sempurna dan sehat),
serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada
dan mujur). Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan
Nabi Muhammad saw Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan yang erat
dengan kepribadian Nabi Muhammad saw
Al-Quran surat Al-A'raf (7):
157 juga menginformasikan bahwa Nabi Muhammad saw pada hakikatnya
dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara lain
disebabkan mereka mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan
Injil (QS Al-A'raf [7]: 157).
Masa Prakenabian
Ada beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang Nabi Muhammad saw sebelum kenabian beliau. Antara lain,
"Bukankah
Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu,
dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia memberi petunjuk kepadamu, dan Dia
mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?"
(QS Al-Dhuha [93]: 6-8)
Beliau yatim sejak di dalam
kandungan, kemudian dipelihara dan dilindungi oleh paman dan kakeknya.
Beliau hidup di dalam keresahan dan kebimbangan melihat sikap
masyarakatnya, lalu Allah memberinya petunjuk, dan mengangkatnya sebagai
Nabi dan Rasul. Beliau hidup miskin karena ayahnya tidak meninggalkan
warisan untuknya, kecuali beberapa ekor kambing dan harta lainnya yang
tidak berarti. Tetapi Allah memberinya kecukupan, khususnya menjelang dan saat hidup berumah tangga dengan istrinya, Khadijah a.s.
Berkenalan dengan Khadijah
Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan secepatnya tentang kejujuran dan sifat dapat dipercaya Muhammad dalam membawa bisnis perdagangan telah meluas, membuatnya dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.
Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan secepatnya tentang kejujuran dan sifat dapat dipercaya Muhammad dalam membawa bisnis perdagangan telah meluas, membuatnya dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.
Seseorang yang telah
mendengar tentang anak muda yang sangat dipercaya dengan adalah seorang
janda yang bernama Khadijah. Ia adalah seseorang yang memiliki status
tinggi di suku Arab dan Khadijah sering pula mengirim barang dagangan
ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuatnya
terpesona sehingga membuat Khadijah memintanya untuk membawa serta
barang-barang dagangannya dalam perdagangan. Muhammad dijanjikan
olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan dengan
sekembalinya Muhammad dengan keuntungan yang lebih dari biasanya.
Akhirnya,
Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah kemudian mereka menikah. Pada
saat itu Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah mendekati umur
40 tahun, tetapi ia masih memiliki kecantikan yang menawan. Perbedaan
umur yang sangat jauh dan status janda yang dimiliki oleh Khadijah,
tidak menjadi halangan bagi mereka, karena pada saat itu suku Quraisy
memiliki adat dan budaya yang lebih menekankan perkawinan dengan gadis
ketimbang janda. Walaupun harta kekayaan mereka semakin bertambah,
Muhammad tetap sebagai orang yang memiliki gaya hidup sederhana, ia
lebih memilih untuk mendistribusikan keuangannya kepada hal-hal yang
lebih penting.
Nabi Muhammad Memperoleh Gelar
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia bersatu dengan orang-orang Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Ia pula yang memberi keputusan di antara mereka tentang peletakan Hajar al-Aswad di tempatnya. Saat itu ia sangat masyhur di antara kaumnya dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya”.
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia bersatu dengan orang-orang Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Ia pula yang memberi keputusan di antara mereka tentang peletakan Hajar al-Aswad di tempatnya. Saat itu ia sangat masyhur di antara kaumnya dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya”.
Diriwayatkan
pula bahwa Muhammad percaya sepenuhnya dengan ke-Esaan Tuhan. Ia hidup
dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan
sombong. Ia menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak
yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia
juga menghindari semua kejahatan yang biasa di kalangan bangsa Arab
pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar
dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang memiliki
arti “yang benar”.
Kerasulan Nabi Muhammad
Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang dengan kekerasan dan pertempuran dan menjelang usianya yang ke-40, ia sering menyendiri ke Gua Hira’ sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah disana dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut dan di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.
Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang dengan kekerasan dan pertempuran dan menjelang usianya yang ke-40, ia sering menyendiri ke Gua Hira’ sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah disana dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut dan di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.
Pada
suatu malam sekitar tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611, ketika
Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira’, Malaikat Jibril mendatanginya.
Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia
diminta membaca. Ia menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Jibril
mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya
tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq 96: 1-5)
Ini
merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu ia
berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah
(penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut
perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah
pengalaman luar biasa di Gua Hira tersebut, dengan rasa ketakutan dan
cemas Muhammad pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah untuk
menyelimutinya, karena ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin
secara bergantian. Setelah hal itu lewat, ia menceritakan pengalamannya
kepada sang istri.
Untuk lebih
menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad mendatangi
saudara sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui
nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi.
Mendengar cerita yang dialami Muhammad, Waraqah pun berkata, bahwa ia
telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah
menyebutkan bahwa An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang
kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu, mereka akan
memusuhi dan melawannya.
Wahyu
turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun.
Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan Muhammad,
dan dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al-
Qur??n (bacaan). Kebanyakan ayat-ayatnya mempunyai arti yang jelas,
sedangkan sebagiannya diterjemahkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat
yang lain. Sebagian ayat-ayat adapula yang diterjemahkan oleh Muhammad
sendiri melalui percakapan, tindakan dan persetujuannya, yang terkenal
dengan nama As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah digabungkan bersama
merupakan panduan dan cara hidup bagi “mereka yang menyerahkan diri
kepada Allah”, yaitu penganut agama Islam.
Nabi Muhammad Mendapatkan Pengikut
Selama tiga tahun pertama, Muhammad hanya menyebarkan agama terbatas kepada teman-teman dekat dan kerabatnya. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam, antara lain Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613, Muhammad mengumumkan secara terbuka agama Islam. Banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Amr bin Nufail masuk Islam dan bergabung membela Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan As-Sabiqun al-Awwalun.
Selama tiga tahun pertama, Muhammad hanya menyebarkan agama terbatas kepada teman-teman dekat dan kerabatnya. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam, antara lain Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613, Muhammad mengumumkan secara terbuka agama Islam. Banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Amr bin Nufail masuk Islam dan bergabung membela Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan As-Sabiqun al-Awwalun.
Akibat
halangan dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah, sebagian orang Islam
disiksa, dianiaya, disingkirkan dan diasingkan. Penyiksaan yang dialami
hampir seluruh pengikutnya membuat lahirnya ide berhijrah (pindah) ke
Habsyah. Negus, raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam
berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di
Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Madinah, kota yang
berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah.
Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah
Di Mekkah terdapat Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka’bah dalam suatu kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan seruannya ialah sekumpulan orang dari Yathrib (dikemudian hari berganti nama menjadi Madinah). Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam Mekkah.
Di Mekkah terdapat Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka’bah dalam suatu kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan seruannya ialah sekumpulan orang dari Yathrib (dikemudian hari berganti nama menjadi Madinah). Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam Mekkah.
Tahun
berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke
Mekkah. Mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya.
Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut
Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang
orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yathrib. Muhammad akhirnya
setuju untuk berhijrah ke kota itu.
Mengetahui
bahwa banyak masyarakat Islam berniat meninggalkan Mekkah, masyarakat
jahiliyah Mekkah berusaha menghalang-halanginya, karena beranggapan
bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yathrib, orang-orang Islam akan
mendapat peluang untuk mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang
lain. Setelah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, masyarakat
Islam dari Mekkah pada akhirnya berhasil sampai dengan selamat ke
Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah atau “Madinatun Nabi”
(kota Nabi).
Di Madinah,
pemerintahan (kalifah) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad.
Umat Islam bebas beribadah (salat) dan bermasyarakat di Madinah.
Quraish Makkah yang mengetahui hal ini kemudian melancarkan beberapa
serangan ke Madinah, akan tetapi semuanya dapat diatasi oleh umat
Islam. Satu perjanjian damai kemudian dibuat dengan pihak Quraish.
Walaupun demikian, perjanjian itu kemudian diingkari oleh pihak Quraish
dengan cara menyerang sekutu umat Islam.
Penaklukan Mekkah
Pada
tahun ke-8 setelah berhijrah ke Madinah, Muhammad berangkat kembali ke
Makkah dengan pasukan Islam sebanyak 10.000 orang. Penduduk Makkah
yang khawatir kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa
perlawanan, dengan syarat Muhammad kembali pada tahun berikutnya.
Muhammad menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ia kembali maka
ia menaklukkan Mekkah secara damai. Muhammad memimpin umat Islam
menunaikan ibadah haji, memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling
Ka’bah, dan kemudian memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan
agama Islam di kota Mekkah.
Mukjizat Nabi Muhammad
Seperti nabi dan rasul sebelumnya, Muhammad diberikan irhasat (pertanda) akan datangnya seorang nabi, seperti yang diyakini oleh umat Muslim telah dikisahkan dalam beberapan kitab suci ajaran samawi, kemudian dikisahkan pula terjadi pertanda pada masa didalam kandungan, masa kecil dan remaja. Kemudian Muhammad diyakini diberikan mukjizat selama kenabiannya.
Seperti nabi dan rasul sebelumnya, Muhammad diberikan irhasat (pertanda) akan datangnya seorang nabi, seperti yang diyakini oleh umat Muslim telah dikisahkan dalam beberapan kitab suci ajaran samawi, kemudian dikisahkan pula terjadi pertanda pada masa didalam kandungan, masa kecil dan remaja. Kemudian Muhammad diyakini diberikan mukjizat selama kenabiannya.
Dalam syariat
Islam, mukjizat terbesar Muhammad adalah Al-Qur’an, karena pada masa
itu bangsa Arab memiliki kebudayaan sastra yang cukup tinggi dan
Muhammad sendiri adalah orang yang buta huruf, yang diyakini oleh umat
muslim mustahil dikarang olehnya. Selain itu, Muhammad juga diyakini
pula oleh umat Islam pernah membelah bulan pada masa penyebaran Islam
di Mekkah dan melakukan Isra dan Mi’raj dalam waktu tidak sampai satu
hari. Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad adalah kecerdasannya
mengenai ilmu ketauhidan.
Fisik dan ciri-ciri Muhammad
Berikut adalah penggambaran sosok Muhammad dari salah satu istinya yaitu Aisyah, sepupunya Ali bin Abi Thalib, para sahabatnya, serta orang terakhir yang masih hidup yang kala itu sempat melihat sosoknya secara langsung, yaitu Abu Taufik.
Berikut adalah penggambaran sosok Muhammad dari salah satu istinya yaitu Aisyah, sepupunya Ali bin Abi Thalib, para sahabatnya, serta orang terakhir yang masih hidup yang kala itu sempat melihat sosoknya secara langsung, yaitu Abu Taufik.
Aisyah
dan Ali bin Abi Thalib telah merincikan ciri-ciri fisik dan penampilan
keseharian Muhammad, di antaranya adalah rambut ikal berwarna sedikit
kemerahan, terurai hingga bahu. Kulitnya putih kemerah-merahan,
wajahnya cenderung bulat dengan sepasang matanya hitam dan bulu mata
yang panjang. Tidak berkumis dan berjanggut sepanjang sekepalan telapak
tangannya.
Tulang kepala besar
dan bahunya lebar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu
pendek, berpostur kekar sangat indah dan pas dikalangan kaumnya. Bulu
badannya halus memanjang dari pusar hingga dada. Jemari tangan dan kaki
tebal dan lentik memanjang.
Apabila
berjalan cenderung cepat dan tidak pernah menancapkan kedua telapak
kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, ia
menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Di antara kedua bahunya
terdapat tanda kenabian dan memang ia adalah penutup para nabi. Ia
adalah orang yang paling dermawan, paling berlapang dada, paling jujur
ucapannya, paling bertanggung jawab dan paling baik pergaulannya. Siapa
saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya.
Setiap
orang yang bertemu Muhammad pasti akan berkata, “Aku tidak pernah
melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya.”
Begitulah Muhammad di mata khalayak, akhlaknya yang sangat mulia
digambarkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Begitu saya sangat mengagumi dan mencintai sosok dari Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang begitu baik hati sabar tekun dan segala hal baik yang ada di dalam dirinya yang mau membimbing umat nya walau harus menghadapi berbagai rintangan.. Terimakasih saudara-saudara ku yang telah membaca kisah ini semoga menjadikan kita termotivasi dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi Wasalam...
0 komentar:
Posting Komentar